Renunganku 03

Setiap hari jum’at di sekitar rumah saya diadakan pengajian rutin. Kegitan pengajian ini di mulai setelah shalat maghrib. Acaranya membaca surat yasin, tahlil dan kultum. Setelah pengajian oleh tuan rumah para pengikut pengajian di berikan suguhan(makanan kecil atau nasi). Setelah bersantap baru pulang.

Jumat lalu pengajian rutin ini diadakan di tetangga depan rumah. Nia (pemilik rumah) sudah bingung mau menguguhkan apa? karena dirumah saat ini dia sedang sendiri, suami dan mertuanya sedang ada di jakarta. Dia memutuskan untuk membuat kue tiga jenis dan aqua. Tapi setelah dia fikir jika bikin kue perlu tenaga akhirnya dia memutuskan untuk memesan kue.

Jumat sore saya membantu nia memasukkan makanan ke dalam kerdus. Ada 3 jenis makanan yang dia pesan donat, onde-onde dan dadar gulung. Bagi saya itu sudah sangat mewah. Karena saat ini kita ingin mengaji bukan untuk makan.

Malamnya setelah pengajian dibagikanlah makanan-makanan tersebut. Ternyata masih tersisa banyak karena nia sudah menyiapkan 40 kotak. Maka saya bagikan ke ibu-ibu yang membawa anak. Sisa lainnya di berikan ke masjid karena pada saat itu di masjid sedanga ada orang yang bekerja.

Esok harinya, nia ke rumah saya sore-sore karena hari ini dia belajar mengaji di rumah sama mama. Sebelum mengaji dia cerita kalau dia di bilangin pelit karena semalam dia cuma menyediakan makanan yang murah-murah saja. Saya bilang sudah yang kayak gitu tidak usah dipikirkan.

Saya langsung berfikir, kenapa hal seperti itu saja dipermasalahkan. Saya rasa kita niat dari awal adalah untuk mengaji bukan untuk menilai makanan yang diberikan oleh tuan rumah. Mau disediakan apa saja oleh tuan rumah kita harus bersyukur. Sudah mengaji dapat pahala kemudian dapat makanan lagi (he….he…).

Memang kebiasaan untuk menilai tidak pernah bisa lepas dari diri siapapun menurut saya. Yang penting kita Ikhlas memberikan apa yang kita suguhkan. Dan tidak usah pikirkan omongan orang. Bukan orang yang memberi kamu pahala tapi Allah. Jadi kita tidak perlu malu kata saya ke nia.

One thought on “Renunganku 03

  1. Manusia tetaplah manusia. Dia kadang takut mendapatkan penilaian yang “kurang ideal” dari komunitas sekitarnya. Ketakutan-ketakutan itulah yang kadang “menyeret” kita menjadi berbuat tidak ikhlas, tidak lillahi ta ala…. Banyak menyumbang karena takut dibilang pelit ( Dll yg berbau ria lah ). Sama spt trend jaman sekarang : harus punya pacar, ngga boleh jomblo agar jgn sampai dibilang tak laku…. Padahal, pacaran bukan gayanya islam kan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s