Sukses dengan I’tikaf

Niat i’tikaf ini sudah ada sejak 3 atau 2 tahun belakangan. Tetapi sampai saat ini saya dan keluarga belum bisa melaksanakannya. Mungkin hanya niat saja yang kami miliki, tetapi ghirahnya belum kuat (mungkin he….he…). Semoga ini sudah menjadi catatan tersendiri oleh Allah.

I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadar.

I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah SWT: “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187).

I’tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya ini menurut mazhab Syafi’i. Atau I’tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Tetapi yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan.

Banyak sekali tujuan melakukan I’tikaf. Salah satunya adalah untuk sementara kita memisahkan diri dari kegiatan duniawi. Melakukan semua kegiatan surgawi seperti Shalat, baca Qur’an, berzikir, bertafakkur, dan bertaubat atas segala dosa yang telah dilakukan. Pada saat beri’tikaf ini kita hanya berkonsentrasi pada Allah, melakukan hubungan batiniyah dengan sang pencipta.

Manfaat kita melakukanI’tikaf salah satunya adalah kita dapat bertemu orang-orang shaleh yang memang meluangkan waktu untuk beri’tikaf. Dan ternyata salah satu penunjang kesuksesan seseorang adalah dengan beri’tikaf. Kok bisa, lihat saja salah seorang pemilik media cetak di suatu daerah beliau biasa melakukan I’tikaf selama 30 hari di Makkah dan saat ini beliau mempunyai cabang banyak untuk media cetaknya, ada juga salah satu temen papaku, beliau sukses dalam mengelola bisnis dan politiknya karena setiap 10 hari terakhir Ramadhan beliau pasti tidak ada dirumah karena I’tikaf.

Tetapi contoh riil orang yang bisa sukses karena I’tikaf sudah pasti Rasullullah SAW. Beliau menjadi nabi sepanjang masa. Beliau dapat sukses menjadi pemimpin untuk ummatnya. Jadi tidak ada salahnya jika kita mencontoh beliau. Walaupun pastinya kita tidak bisa sesempurna beliau. Tetapi tidak ada salahnya jika kita mencoba. Orang seperti beliau atau para pengusaha itu saja bisa meluangkan waktunya untuk beri’tikaf. Apalagi kita yang pastinya memiliki waktu lebih banyak.

Jadi selamat mencoba. Jika belum bisa Ramadhan sekarang. Semoga kita masih diberi umur panjang, sehingga Ramadhan yang akan datang kita bisa melakukan I’tikaf. Amin.

2 thoughts on “Sukses dengan I’tikaf

  1. ALLAH yang pnya MAHA segalanya, klo dah ga bisa i’tikaf di masjid ya di rumah aja…toh dengan niatx aja kan dah dapet pahala tu…,jd niat aja trus….he2, itung2 ngumpulin pahala ampe banyak dari niat tu endiri…,:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s