Kakek Tua

Suara langkah kaki itu selalu membangunkanku. Dengan tergesa-gesa suara langkah kaki itu menuju ke masjid. Setiap pagi suasa langkah kaki itu pasti membangunkanku. Terkadang membuatku kesal karena mengganggu tidurku.

Langkah kaki tersebut menjadi jam wekerku, membangunkanku untuk shalat tahajjud. Awalnya aku tidak pernah mengetahui suara langkah kaki siapa itu, tetapi seiringnya waktu ku baru menyadarinya bahwa suara langkah kaki tersebut berasal dari kakek yang tinggal di belakang rumahku. Di usia tuanya beliau masih rajin bangun pagi dan pergi ke masjid untuk shalat lima waktu.

Dengan malasnya ku buka mataku, melihat jam di dinding, jam baru menunjukkan jam 03.00 pagi. Tanpa kesadaran penuh ku melangkahkan kaki ke kamar mandi. Ku ambil air wudhu.

Suara kaki itu menjadi hal yang bisa bagiku saat ini. Walaupun awalnya buuh waktu untuk dapa membasakan diri. Tetapi seiringnya waktu aku pun menjadi terbiasa. Yach kakek itu mengajarkanku sebuah semngat yang seharusnya ku pupuk sejak usiaku masih muda. Untuk rajin melaksanakan shalat. Seperti ketika waktu itu aku pulang kliah sore. Bertepatatan dengan orang-orang pulang dari masjid selesai shalat ashar. Ku lihat kakek itu berjalan pulang dengan tertatih-tatih. Buru-buru ku samperi beliau. Ku tuntun jalannya menuju rumahku. “loh kek kenapa kakinya,”tanyaku. Kaki saya baru keseleo tadi, jawabnya sambil meringis menahan sakit. Terus kenapa gak shalat di rumah saja, tanyaku kembali,”. Wah mbak, selama saya masih bisa berjalan saya akan tetap shalat ke masjid, jawabnya. “shalat di masjid pahalanya lebih banya, jika dibandingkan dengan shalat di rumah, mumpung masih punya umur dan kemampuan untuk dapat berjalan kenapa saya mesti shalat di rumah, jawabnya. “ku tersentak dengan jawabanya. Jawabannya membuatku malu, karena selama ini aku malas sekali pergi ke masjid, padahal jarak masjid dengan rumahku hanya sekitar seratus meter tetapi aku tidak pernah shalat di masjid. Kakek tersebut menyadarkanku, beliau dengan umurnya yang sudah tua dan dalam keadaan kaki yang sakit saja masih menyempatkan pergi ke masjid sambil menahan sakit. Sedangkan aku yang masih muda dan sehat tidak pernah mau ke masjid. Malunya aku, sejak itu akau tersadar dan mulai rajin untuk pergi ke masjid. Terima kasih kek, kau menyadarkanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s